Halaman

Juli 15, 2011

Insiden Kesel-Eo



Itu yang terjadi pada saya. Ingin hati menghadiri perhelatan kawinan rekan SMP, pukul 04.35 WIB saya sudah meluncur ke Stasiun Gubeng. Wao! Rame gila. Hari masih gelap. Banyak orang tua, remaja, dan anak-anak menunggu kedatangan ‘Kereta Api Cepat Rapih Dhoho’. Saran saya, jangan percaya pada judul kereta jurusan Surabaya-Blitar itu. Butuh waktu yang setara Surabaya-Jogja untuk tiba ditujuan akhir, kota lahir Bung Karno. Maaf, saya tidak bermaksud curhat soal nama kereta api yang akan berubah menjadi ‘Penataran’ dengan jurusan Malang-Surabaya itu.

Yap! Kereta api proletar itu sudah menampakkan sorot mata kuningnya. Semua bersiap ambil posisi dengan prediksi di titik mana pintu kereta akan berhenti. Beberapa detik terakhir sebelum kereta itu saya pastikan berhenti tepat di depan mata, berebutlah sudah. . .

Inilah kronologis sadis itu. Kaki kanan naik, dengan posisi kaki kiri jadi tumpuan tunggal. Belum sempat dua tangan ini memegang erah dua besi di sisi kanan dan kiri pintu kereta, otak pun belum mengintruksi beban tubuh dipindahkan dari kaki kiri, eh keseplak orang-orang deh dari arah kanan. Ada yang bersuara. Tulang saya. Hebatnya, lutut ini bergetar heboh. Sakit. Tak bisa bergerak. Untung saja, dapat kursi paling dekat.
3 jam duduk dan tidak bergeser tempat sama sekali. Saya belum tahu betapa menderitanya saya dalam beberapa jam berikutnya. Yang jadi analisis, ada yang berbeda dengan pagi tadi. Biasanya saya tidak tidur dan jalan kaki ke stasiun, jika saya memutuskan berangkat di waktu subuh. Tapi semalam saya ketiduran, dan akhirnya dengan senang hati memanfaatkan motor menuju TKP. Sengaja saya parkir, karena ada niat langsung pulang kembali ke Surabaya malam itu juga. Tidak ada pemanasan di persendian yang terbiasa survive mengejar kereta, yang sudah mulai berjalan sekalipun. Maklum. Injury time lover.

Al-hasil, saya turun dengan bantuan banyak orang. Ada yang pegang barang bawaan saya, termasuk kado dengan bungkus yang sudah hancur itu, mencarikan jalan karena saya harus menyeberangi rel yang segera datang kereta baru, membopong, sampai memanggilkan petugas kesehatan dan membawakan kursi roda. Terima kasih, wahai orang-orang baik. Segala kebaikan berbagai ukuran pasti terbalas.

Datang ke walimahan batal, tapi masih sempat terhibur dengan teman-teman yang iba pada saya. Meski saya tak bisa berdiri dengan kekuatan sendiri, mereka menjadi kekuatan kedua saya, ketiga, dan selebihnya. Saya diparutkan kencur yang wangi. Diajak jalan-jalan menikmati surga nasi pecel tumpang di Kertosono. Terakhir, diantar pulang.

Kaki ini tidak mendapat perawatan seperti saran semua orang: sangkal putung. Bapak saya melarang, karena dia lebih berpengalaman. Dokter tidak menyarankan pergi ke tempat reparasi tulang itu. Saya hanya percaya, mereka lebih tahu dan lebih sakti. Harus terapi.

Jika sedekah penolak petaka, dan kalau ini disebut petaka, mungkin kurang banyak sedekahnya. Jikalau ini dibilang cobaan, yang selalu ada pada mahasiswa selama proses pengerjaan skripsi, boleh. Tapi sampai ini dikatai terjadi karena berat badan saya, mereka itu sok tahu. . .

Dan pasca tragedi itu, dalam beberapa minggu kedepan saya harus menjalani sederet risiko sebagai penyandang keseleo. Baiklah. Kudu siap jatuh karena posisi kaki tidak tepat, kapanpun dimanapun. Terpeleset di kamar mandi sudah. Rontgen (baca: ronsen) kedua kali pakai biaya sendiri padahal status masih mahasiswa pengangguran pun sudah. Dan sore tadi yang dikhawatirkan tengah terjadi. Saya terjun bebas dari tangga dengan posisi kepala dibawah. Memar dimana-mana. Kombo!

1 komentar:

Meyta Masrisvianna Fitri mengatakan...

semoga esok hari tidak akan terasa kelinuan yang mendalam...Loh???

tapi kalimat anda tentang kesalahan sang "berat" sebaiknya diakui kebenarannya. soale...mungkin jika sedikit lebih ringan maka tubuh akan lebih seimbang dalam melawan sepak dari manusia manapun.

dan yg ditakutkan adalah insiden yg terjadi pada anda, terjadi pula pada saya yg notabene-nya hampir sama "berat".

sakakene "berat selalu disalahkan" .....

kalo g suka post-Q dihapus ae...g penting soale *efek g turu...haha