Halaman

Januari 09, 2011

Ingatan (mem-)Baik


Jangan menanyaiku tentang masa pra-sekolah-menengah-atas. Tak banyak yang ku ingat. Bayangan menyamar. Aku lupa apa yang terjadi saat pertama kali aku daftar sebagai murid TK. Aku tak ingat apa saja permainan yang ku mainkan di usia 3 tahunku itu. Tak pula aku menyimpan memory bagaimana rasanya naik panggung karena menerima penghargaan prestisius dari pak camat waktu perpisahan murid TK ******(aku juga tak ingat nama TK-ku) di tahun 1994. Selama 2 tahun berstatus anak TK, hanya satu yang ku pastikan betul-betul mengingatnya. Aku sembunyi di kamar mandi sampai jam pulang sekolah karena takut disuntik. Entahlah, injeksi apa yang diberikan pada anak kecil di masa itu. Sebenarnya aku ga yakin, pernahkah aku ini sekolah TK???

Berkesan sekali, sepertinya, menerima raport cawu pertama di bangku SD. Orang tua di datangkan, diceramahi kepala sekolah, dan nama 3 ranking teratas kelas parallel dibacakan. Sepertinya juga asyik mengenang dengan siapa masa balita akhir itu kita nikmati. Apalagi mendata ulang siapa guru-guru jahat dan nama-nama partner in crime yang pernah duduk sebangku. Dan sekali lagi, aku tak punya memory itu. Yang ku ingat, aku sekolah di SD N Masalima I Masalembu yang berjarak 10 meter dari rumah dinas yang ku tinggali. Di sana aku yang paling muda karena rata-rata anak disekolahkan mulai usia 7-9 tahun, dan kelas 2 SD seluruh anak laki-laki pasti sudah sunat. Yang masih tercatat pula di otakku, tentang kelihaian mereka menghafal runtutan kalimat di papan. Jadi, kalau di suruh baca ke depan, mereka tinggal mengulang apa yang didengar dari guru setelah sukses di hafalkan.

Sepotong ingatanku masih membekas di dermaga itu, yang rela menunggui kapal perintis datang untuk membawaku ke tanah jawa. Hari itu pertama kalinya tubuhku ditempeli perhiasan. Sebuah cincin emas yang diukir, dari koleka ibuku, Bu Raisah namanya. Meskipun siang sangat panas, tapi aku suka, menyaksikan cincin warisan itu berbinar karena matahari. Secara, anting yang digunakan mayoritas masyarakat dunia sebagai identitas perempuan saja aku tak pernah memakainya, karena bapakku tidak suka, katanya. Btw, soal anting, aku masih ingat kebiasaanku setelah beli kaus kaki. Dua menjepit ujungnya selalu ku pasang di telinga, lalu aku senyam-senyum sendiri menyaksikan bayangan kupingku di depan kaca. Anehnya, kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Hahahahha

Sekolahku berikutnya di SD N Ploso IV Nganjuk. Orang-orang yang ramah dan punya daya saing tinggi atas gengsi, itu kesan pertamaku. Aku ingat karena aku mulai merasakan gejala jet lag dan shock culture. Visi yang menjadi obsesi kami hanya satu, memenangkan persaingan apapun dari SD N Ploso II Nganjuk. Hanya sebagian juga yang jelas ku ingat di masa itu, diantaranya, aku bikin surat cinta waktu kelas 3 SD, sebangku sama anak baru yang juga dari Madura pas kelas 4, nilai C untuk kolom kelakuan di raport cawu dua kelas 5, dan tidak di sukai guru matematika waktu kelas 6 karena langganan bayar denda 100 repes sekaligus berdiri selama pelajaran berlangsung, aku memang terlalu sering dan nyaris tak pernah mengerjakan PR darinya. Overall, masa SD ku tak ada catatan prnting yang heroic.

Terus habis lulus SD. . . . . . .
*hwadu, preambule kepanjangan! Pre-memory!*

Jadi, intinya, ingatanku sangat baik dalam beberapa bulan ini. Kurang lebih 50-an bulan terakhir :D
Kenapa aku baru menyadarinya?! Karena siang tadi aku ikutan tes kejiwaan, salah satu pertanyaannya: “Apakah Anda merasa ingatan saat ini membaik?”

aku jawab, ya!

Dan perjalanan masih panjang

Tidak ada komentar: